?SUDUT PANDANG? (LAMA)

Prakata: Hal-hal berikut ini tidak orisinil dari saya. Saya lebih bertumpu pada pengalaman dan mawas diri dalam keseharian. Saya merasa cocok dengan substansi dari catatan di bawah ini karena bermuara pada ‘pertanyaan’, bukan pada ‘jawaban’. Jangan percaya sebelum menguji setiap hal berikut ini.

Pengandaian
1.    Energi.
Paradigma dan Bahasa Baru: Energi. Dari materi sampai ‘roh’, dari Bima Sakti sampai amuba, pada dasarnya adalah energi walaupun berlainan frekuensi. Segala-galanya adalah energi yang bergetar pada frekuensi yang berbeda. Perbedaan frekuensi mempengaruhi tingkat kesadaran dan sebaliknya. Dunia mineral berfrekuensi rendah dan ekspresinya berupa radiasi. Dunia tumbuh-tumbuhan berfrekuensi lebih tinggi dan menimbulkan kepekaan dan warna. Dunia hewan bisa bergerak. Dunia manusia punya self- awareness (kesadaran diri) yang berkembang menjadi kesadaran- kelompok dan kesadaran-global. Materi adalah ‘roh’ frekuensi terbawah dan ‘roh’ adalah materi frekuensi tertinggi. Semua energi yang ada mengandung Energi Yang Esa, energi universal yang mengisi seantero alam raya. Energi Ilahi ini tinggal/imanen dalam segala-galanya sekaligus berada di luar segala-galanya/transenden. Manusia bagaikan jembatan antara alam benda dan alam Roh.
2.     Kesatuan.
Satu sama lain saling mempengaruhi dan saling tergantung, tak ada yang dapat dipisahkan, diputuskan, dipecahkan dari kesatuan ini. Tidak ada ‘sesuatu’ yang terisolir, semua berelasi dengan semua. Perubahan terkecil pun dalam satu aspek dalam satu mata rantai menyebabkan perubahan seluruh rantai. Materi, zat, bisa berwujud padatan kecil, butir-butir halus, partikel-partikel, dan bisa berwujud jaringan gelombang. Jaringan itulah yang membangun alam raya ini berupa arus energi atau medan energi. Satu manusia maupun satu planet dibangun oleh jala energi itu tanpa terlihat batasnya. Mikro dan makro-kosmos saling mengisi dan merangkul, sehingga bahasa kita ‘dalam/batin/internal’ dan ‘luar/lahiriah/eksternal’ menjadi kadaluwarsa.

3.    Evolusi dan Kerjasama.
Suatu keadaan, suatu bentuk, suatu kondisi tertentu, bila sudah tak lagi bisa menampung energi kehidupan yang dikandungnya akan menghancurkan dirinya sendiri untuk membentuk suatu bentuk, keadaan, kondisi baru yang lebih mampu menampung, lebih mengekspresikan energi kehidupan yang dikandungnya, pada tingkat yang lebih tinggi. Proses evolusi ini berupa osilasi, distruktur secara siklis oleh dua; yin dan yang, ujung-ekstrem, dari satu kekuatan tunggal. Dari perspektif Taoisme ini, konflik dan revolusi kekerasan terjadi dalam suatu konteks kerja sama yg lebih luas. Konflik dan revolusi kekerasan mungkin merupakan bagian dari perubahan, tapi bukan sumbernya. Karena itu harus dibuat sekecil mungkin.
4.    Kesadaran.
Energi mengalir mengikuti kesadaran, budi, niat, pikiran, dan perhatian. Manusia adalah suatu gumpal energi dengan seperangkat asumsi dan keyakinan yang memancar keluar dan mempengaruhi dunia. Dengan kata lain manusia mungkin mencapai tingkatan frekuensi tertentu di mana ia bisa mengubah lingkungan energi lain (hanya) dengan ‘batin’-nya. Dunia fisik mencerminkan, atau adalah lambang dunia batin. Kesadaran adalah sebab-musabab. Karena itu ada peluang bagi manusia untuk menjadi rekan-Pencipta walaupun tidak setara dengan-Nya.
5.    Sang Pencipta.
Sejarah secara niscaya adalah sejarah keselamatan. Dari perspektif batiniah, di balik atau di bawah setiap perubahan mikro dan makro-kosmos, Energi Ilahi selalu terlibat dan melibatkan diri. Evolusi alam raya dituntun oleh Energi Ilahi ini melalui jutaan langkah ke tingkatan yang selalu lebih tinggi. Suatu keadaan, suatu bentuk, suatu kondisi tertentu, bila sudah tidak lagi bisa menampung energi kehidupan yang dikandungnya akan menghancurkan dirinya sendiri untuk membentuk suatu bentuk, keadaan, kondisi baru yang lebih mampu menampung, lebih mengekspresikan energi kehidupan yang dikandungnya pada tingkat yang lebih tinggi. Selalu terjadi evolusi ke arah yang ‘lebih’ walaupun tidak selalu enak dan masuk ‘akal’, misalnya perang, wabah, bencana alam dsb-nya. Konstruksi dan destruksi, hidup dan mati adalah dua sisi dari satu kehidupan yang sama, “...the world is unfolding as it should...”, karena Yang Ilahi itu meluruskan penyimpangan dan dosa manusia. Ia menuntut tangungjawab manusia dan konsekuensi-konsekuensi pilihannya.

A. Hasil: Korban, dari kemiskinan materiil akibat cacat politik-ekonomi-budaya-agama, semakin menurun.                                                                      
    “If you don't know where you are going, anywhere will do”.
Keterangan :
Pendekatan masalah dengan berangkat dari korban (petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota, suku terasing, perempuan, anak-anak, Dll.). Ini dipilih dengan sadar, karena: (1) bercorak umum, langsung dan spontan, dan tidak diskriminatif (terhadap profesi, budaya, agama, ruang, waktu, seks). Selain itu, lebih mudah dirasakan dan diungkapkan daripada suatu abstraksi tentang apa itu keadilan sosial, masyarakat adil makmur, dan lain sebagainya. Manusia terkait satu sama lain. Bisa diibaratkan sebagai suatu rantai. Kekuatan/mutu seuntai rantai ditentukan oleh kekuatan/mutu mata rantai yang terlemah. Pembebasan penderitaan dari sebagian (parsial) manusia di dunia ini menaikkan mutu semua orang. Jadi (2) pilihan bebas ‘mendahulukan orang yang menderita’, yang dengan sendirinya bermuara pada kesejahteraan manusia secara universal. Dengan demikian diantisipasi (3) kesepakatan dan kerjasama sebanyak mungkin pihak dan dikurangi lawan-lawan semu yang jelas tak perlu khususnya dari berbagai (4) budaya dan (5) agama. Walaupun tukar pikiran dan pengalaman tentang budaya, agama, ideologi, Dll. itu perlu bahkan esensiil, tetapi (6) ‘satu tindakan untuk satu perubahan’ lebih dibutuhkan dan menentukan. Penekanan pada tindakan ini dilandasi oleh (7) suatu kesadaran akan keterbatasan-diri-subyek, yaitu bahwa subyek tidak mempunyai jawaban yang ‘joss’ atas penderitaan. Dan karena hasil ini terjalin dalam (8) proses aksi-mawas-diri yang terus-menerus melekat padanya koreksi-koreksi yang niscaya akan diperlukan sekali prosesnya bergulir. Reaksi atas penderitaan sudah berproses sejak dulu. Salah satu momennya adalah pernyataan (9) hak asasi manusia (deklarasi PBB) yang didapat dari pengalaman peziarahan umat manusia, bukan hanya dari pikiran orang-orang pandai. Apa sebenarnya yang paling dibutuhkan manusia Indonesia dalam waktu 10 tahun ini? Secara sederhana, kiranya (10) pemenuhan kebutuhan pokok (sembako) jutaan warga masyarakat lapisan bawah.
(A dari: “Berteologi Sosial Lintas llmu: Kemiskinan sebagai Tantangan Hidup Beriman”, JB. Banawiratma. S.J. dan J. Mueller. S.J., Kanisius 1993, Bab 7 No. 7.2)
B.    Aksi: Tindakan-tindakan untuk Mencapai Hasil.
Subyek memilih dan menentukan sendiri apa yang mungkin dicapainya dalam kurun waktu tertentu.
“Tindakan tidak selalu membawa hasil tapi tak akan ada hasil tanpa tindakan”
Benyamin Disraeli
Pedoman Aksi :
1. Pendekatan linier dan separatip ditransformasi menjadi sistemik-holistik. Persoalan dipahami kaitan-kaitannya dalam keseluruhan sistem yang esensiil bersatu. Menghargai salah satu pihak diganti dengan usaha menemukan yang terbaik dari semua pihak. Dicari suatu sintese holistic dari Liberalisme-Konservatisme, Globalisme-Desentralisme, Idealisme-Realisme.
2. Kecenderungan untuk memecahkan persoalan hanya secara rasionil dan kuantitatif diimbangi dengan intuisi dan pemahaman psikologis.
3. Paradigma menang-kalah diganti dengan menang-menang: menemukan dan merumuskan sudut pandang yang sama.
4. Politik sebagai pengumpulan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara ditransformasi menjadi memerintah dengan mensintesakan perbedaan-perbedaan (ras, suku, agama, seks dan ideologi). Menerima perbedaan sebagai kekayaan.
5. “Energi maskulin” yang berlebihan diimbangi dengan “energi feminin” yang intuitif dan inklusif.
6. “milik nggendhong lali” a.l. ‘money-politics’ ditransformasi menjadi kekuasaan dan uang sebagai energi yang pertama-tama berfungsi sosial.
7. Menggantungkan diri secara pasif pada bantuan luar negeri, pemerintah, militer, pemimpin-pemimpin politik ditransformasi menjadi proaktivitas personal. Mengikuti percikan energi Ilahi diri masing-masing, karena masing-masing subyek secara potensial mampu mengubah dunia apalagi dalam jaringan.
8. Aksi individual diperluas dengan aksi kelompok dalam jaringan yang luas. Komunikasi secara efektif-cepat dengan informasi akurat-bisa-dipercaya penting dalam semua lapisan dan sektor.
9. Pendekatan dari mikro ke makro diimbangi dengan pendekatan dari makro ke mikro.
10. Kekerasan dijawab tanpa-kekerasan.
(B dari: ASG dan Corinne McLaughlin and Gordon Davidson, Spiritual Politics, Changing The world from the Inside Out, Ballantine Books: New York, 1994).
C. Watak Apa yang Harus Hidup dalam Subyek (Mawas Diri)
“Jadilah perubahan yang Anda inginkan terjadi di luar sana”
Mahatma Gandhi
1. Motivasi Kunci
2. Luka Batin (Matras)--Paul Vereshack
(http://www.paulvereshack.com)
3. Awareness--Anthony de Mello, S.J
(http://www.demello.org)
4. Latihan Rohani Ignasian
5. Ma’arif Kitab Kearifan--Bahauddin Walad
6. Emotional Quotient--Daniel Goleman (http://www.eiconsortium.org/members/goleman.htm)
7. Delapan Kebiasaan Efektif--Stephen R. Covey
(http://www.stephencovey.com)

Comments

Popular posts from this blog

?SUDUT PANDANG?