?SUDUT PANDANG?

Pengandaian
Prakata: Kita hanya belajar kalau bergerak dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. Pikiran adalah seperti parasut; ia hanya berfungsi bila terbuka. Walaupun pikiran sudah terbuka secara maksimal, tidak semua  pengalaman dan gejala, bisa diketahui sebabnya oleh ratio, oleh semua ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada...Hati tahu, tapi gagap ketika merumuskan firasatnya. ?Sudut Pandang? ini dan isi Madha lainnya menimbulkan deretan pertanyaan-jawaban-pertanyaan-lagi-jawaban-lagi-dstnya. Jangan percaya satu titik pun dalam pengandaian ini sebelum Anda mengujinya sendiri terlebih dulu. Lalu.... mengujinya bersama-sama.
Judul ?Sudut Pandang? kurang tepat untuk hal-hal berikut ini. Anda bebas memberikan judul, istilah apa saja.
"To know what to know and to know what you do not know, that is true knowledge" -Oscar Wilde
1. Tujuan
Kehidupan itu mengalir seperti tarian. Tarian hidup itu berjenjang, ada rentangannya, spektrumnya. Dan ia lurus, berkelok, melingkar-lingkar, spiral dan semua bergetar dengan frekuensinya masing-masing. Jenjang yang tertinggi adalah:
Hidup bersama berkelimpahan-energi sepenuh-penuhnya.
Semua mengalir terarah kepada jenjang yang tertinggi. Manusia ditawari untuk mengambil risiko bermain menjalani keping dan jenjang tariannya  sendiri bersama dengan yang lain sampai ia dan mereka mencapai jenjang “hidup bersama berkelimpahan-energi sepenuh-penuhnya.“
2. Prinsip solidaritas.
Mutu/jenjang setiap orang  diukur oleh apa yang di-”berikan”-nya ke arah luar dirinya. Oleh “memberi”.  Bukan oleh apa yang di-“ambil”-nya bagi diri sendiri. Jika manusia belum “pemberi”, suatu ketika ia mungkin akan memakai sarana-sarana yang disediakan alam semesta, Tuhan,  untuk tiba di jenjang tertinggi. Setapak demi setapak anggota dan kelompok “pengambil” memuai menjadi anggota dan kelompok  “pemberi”.
3. E=mc2.
Bahasa baru: energi. Segala-galanya dan setiap jenjang hidup adalah energi dengan jenis dan frekuensi yang berbeda dari materi sampai roh. Semua energi mengandung Energi Ilahi, yang mengisi seantero alam raya. Energi Ilahi ini “tinggal” dalam segala-galanya sekaligus berada di luar segala-galanya (imanen sekaligus transenden). Sejarah adalah  sejarah keselamatan yaitu Hidup Bersama Berkelimpahan-Energi Sepenuh-penuhnya. Evolusi alam raya dituntun oleh Energi Ilahi melalui trilyunan langkah ke jenjang yang selalu lebih tinggi. Karena Yang Esa Ilahi itu meluruskan penyimpangan, mengisi  kekosongan: ketidakjujuran/dusta manusia.
4. Kesadaran adalah sebab-musabab.
Benak atau pangkal-kesadaran (“mind”) adalah proses dinamis, mengalir. Otak (“brain”) dan hati adalah strukturnya. Interaksi dinamis  antara struktur-struktur benak manusia seperti perasaan, akal, imaginasi, intuisi,  kehendak bebas dll (antara otak dan hati) mencuat ke dalam  (momen) kesadaran (“consciousness”) tertentu. Kesadaran adalah resultante dari proses. Manusia adalah suatu gumpal energi yang memancar dan mempengaruhi kosmos. Dunia fisik mencerminkan  dunia batin. energi mengalir mengikuti kesadaran. Manusia dengan frekuensi tinggi tertentu bisa mengubah medan energi lain  dengan kesadarannya, tanpa terlihat, tanpa terlihat badan lahiriahnya mengadakan tindakan-tindakan lahiriah yang bergerak sibuk kesana kemari. Maka: Kesadaran (“consciousness”) adalah sebab-musabab. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan diberi hak-wajib  menjadi rekan-Pencipta --tidak setara dengan Sang Pencipta-- untuk bertanggung jawab atas akibat pilihan-pilihannya. “Akibat” selalu terjadi bagi diri sendiri dan bagi pribadi-pribadi lain, bagi perjalanan seluruh kosmos, bagi semuanya. Proses evolusi universal-kosmis ini berupa suatu  tarian berstruktur sebab-akibat.
5. Kesatuan organik
Semuanya satu sama lain saling mempengaruhi dan saling tergantung. Semua ber-relasi dengan semua Tak ada yang dapat dipisahkan dari kesatuan ini. Alam semesta terdiri dari  jaringan untaian-untaian rantai energi dan medan-medan energi. Jaringan-jaringan yang membangun alam raya ini Baik satu manusia maupun satu planet dibangun oleh jala energi itu tanpa terlihat batasnya.
6. Prinsip subsidiaritas
Kesatuan organis ini mensyaratkan masing-masing jenjang menjalankan fungsinya, getaran frekuensinya di jenjang yang tertentu masing-masing. Frekuensi yang rendah akan mubazir jika melakukan fungsi-fungsi frekuensi yang lebih tinggi. Frekuensi yang lebih tinggi jika melakukan fungsi frekuensi yang lebih rendah akan menghacurkan wadah frekuensi rendah tsb.
7. Struktur dualitas.
Tata-tertib organis-harmonis tarian itu juga berstruktur dualitas: konstruksi-destruksi, hidup-mati, kaya-miskin, nikmat-derita, gelap-terang, rumit-sederhana, feminine-maskuline, teratur-kacau, ketat-luwes, rinci-kabur dlsb-nya. Semua  terjadi dalam suatu jala kerjasama yang lebih luas dalam tarian hidup. Semua itu adalah dua sisi dari satu hidup yang itu-itu juga. Walaupun tidak selalu enak dan masuk ‘akal’, misalnya bencana alam, wabah, kelaparan, perang, korupsi, kemiskinan. Istilah “korban”, dalam bahasa sehari-hari, adalah hasil dari konstruksi analisa-sintesa pikiran manusia yang terkadang (ataukah selalu?)), ter-reduksi, ter-“discount”, tergesa-gesa. Penafsiran yang manapun juga tidak pernah akan sanggup mencangkup semua fakta dan data. Selain kekurangan data, analisa-sintesa manusia juga kadang mengandung kekurangan terlambat memproses terhadap berbagai fakta baru, penemuan dan paradigma baru.  Mungkin, ada kekurangan juga dalam apa yang disebut “korban” itu sendiri.
.....the universe is unfolding as it should.....
==============================================

A. Hasil: Hidup...!!! Hidup Bersama Berkelimpahan-Energi Sepenuh-penuhnya.
“If you don't know where you are going, anywhere will do”.
Keterangan: The Secret

B. Tindakan untuk hasil
“Benak  ke makrokosmos, aksi  ke mikrokosmos.” - Anonim
Tindakan dialirkan kepada yang paling memanifestasikan, menampakkan, memperlihatkan, secara kasat-mata bahwa jenjang ini kekurangan energi: kekayaan materiil. Kekayaan materiil bukan sarana yang paling utama tapi sarana yang secara global paling mudah tampak paling banyak. Sarana lain juga kurang energinya, mutunya, tapi tidak mudah dilihat.
Subyek memilih dan menentukan sendiri: tindakan terilhami apa yang mungkin dicapainya dalam kurun waktu tertentu. Motivasi tindakan manusia tidak selalu jernih; juga tidak selalu disadarinya. Hanya tindakan yang digerakkan, diilhami oleh aliran energi Ilahi yang efektif dan konstruktif. Dan itu mudah dilakukan. Sebaliknya, tindakan yang tidak terilhami itu sukar dilaksanakan karena tidak selaras dengan energi Ilahi, tidak efektif atau destruktif. 
“Dalam setiap jenjang hidup manusia, kenaikan jenjang ditentukan oleh apa yang dilakukan manusianya ke luar bagi orang lain bukan bagi dirinya sendiri.”
I sought my soul but I could not find.
I sought my god but god eluded me.
I sought my sister/brother and I found all of three”
Penyelesaian masalah-masalah tidak terletak pada bertindak atau tidak bertindak, akan tetapi dalam pemahaman karena dimana ada pemahaman yang benar, disitu tidak ada masalah. (Doa sang katak II P.187)
Pedoman aksi yang terilhami:
1. Sebelum Anda memilih dan memutuskan utk bertindak, Anda harus berada dalam suatu iklim dan proses yang tenang, bebas kelekatan, bebas pelampiasan, bebas konflik internal. Dalam iklim itu Anda berproses kira-kira seputar pertanyaan-pertanyaan berikut:
A. Apakah ini perlu saya lakukan? Bagaimana kualitas energi perasaan saya setelah ada jawaban? (Berat, ringan, lancar, terganjal, gembira, sedih, cerah, buram, dll-nya)
B. Apakah dengan tindakan ini, saya “menemukan Allah di “tempat” Allah ingin ditemukan=tindakan yang terilhami? Bukan di tempat yang saya inginkan! (“tempat” = metode, cara, orang, lokasi, pendekatan, kualitas, uang, ilmu pengetahuan dll. Jodoh?). Cek lagi: Bagaimana kualitas energi perasaan saya setelah ada jawaban?
C. Seberapa sedikit intervensi tindakan efektif yang diperlukan untuk menghasilkan sebanyak yang diinginkan Allah. Cek lagi: Bagaimana kualitas energi perasaan saya setelah ada jawaban?
Lalu jalankan analisa-sintesa rationil dengan ini:
2. Pendekatan linier dan separatip ditransformasi menjadi sistemic-wholistic. Persoalan dipahami kaitan-kaitannya dalam suatu keseluruhan sistem yang esensiil bersatu. Hanya menghargai salah satu pihak saja diganti dengan usaha menemukan yang terbaik dari semua pihak. Dicari suatu sintese wholistic dari liberalime-konservatisme, hirarki-equality, globalisme-desentralisme, idealisme-realisme.
3. Kecenderungan untuk memecahkan persoalan hanya secara rationil dan kuantitatif diimbangi dengan intuisi dan pemahaman psikologis.
4. Paradigma menang-kalah diganti dengan menang-menang. Menemukan dan merumuskan sudut pandang yang sama.
5. Politik sebagai pengumpulan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara ditransformasi menjadi memerintah dengan mensintesakan perbedaan-perbedaan (ras, suku, agama, seks dan ideologi). Menerima perbedaan sebagai kekayaan.
6. Energi maskuline yang berlebihan diimbangi dengan energi feminine, yang intuitif dan ‘inklusif’.
7. “Milik nggendhong lali” a.l. ‘money-politics’ ditransformasi menjadi kekayaan sebagai energi yang pertama-tama berfungsi sosial.
8. Menggantungkan diri secara pasif pada bantuan luar negeri, pemerintah, militer, pemimpin-pemimpin politik ditransformasi menjadi proaktivitas personal. Mengikuti percikan Energi Ilahi diri masing-masing, satu orang subyek mampu menambah hasil di atas.
9. Apalagi aksi kelompok dalam jaringan yang luas. Komunikasi dan informasi secara efektip-cepat-akurat-luas terpercaya adalah sangat penting dalam semua lapisan dan sektor.
10. Pendekatan dari mikro ke makro diimbangi dengan dari makro ke mikro.
11. Kekerasan dijawab tanpa-kekerasan.

(Pedoman aksi terilhami dari: ASG dan Corinne McLaughlin and Gordon Davidson, ‘Spiritual Politics, Changing The world from the Inside Out’, Ballantine Books, New York, 1994.)

C. Watak mikrokosmos
“Jadilah perubahan yang Anda inginkan terjadi di luar sana”. (Mahatma Gandhi--12 Okt 1869-30 Jan 1948)
Jika orang bersukacita, ia selalu baik. Tetapi bila mereka baik, mereka jarang bersukacita.
Masyarakat warga akan memperoleh agen publik dan masyarakat pasar/modal yang mencerminkan kultur, nilai, dan ciri masyarakat warga itu sendiri. (Lord Acton)
Tak ada yang seperti tampaknya. (Matras)
Pertempuran yang sebenarnya ada di tataran Roh. (The Hero-film silat)
Tidak semua akibat bisa diketahui sebabnya.
Makrokosmos dan mikrokosmos saling menembus, saling mendiami. Seperti makrosmos berstruktur dualitas, solidaritas dan subsidiaritas,  maka watak satu orang juga berstruktur solidaritas. ”Solidaritas” dalam satu mikrokosmos manusia menjelma menjadi: ketenangan, kekompakkan dan keselarasan antara raga dan jiwa, antara semua bagian dan organ jiwa-raga itu. Perasaan, pikiran, kemauan, sadar-bawah sadar, dlsb-nya. Struktur “subsidiaritas” menjelma menjadi: setiap bagian dan organ jiwa-raga dalam dirinya sendiri melakukan fungsinya masing-masing secara wajar, alamiah, optimal. Otak, jantung, hati, usus, mata, telinga, dlsb-nya. Dualitas menjadi: otak kiri-otak kanan, pria-wanita.
Karena itu tiap orang harus kenal dirinya, jiwa dan raganya. Mengenal diri memerlukan tindakan juga yaitu mawas diri, merenung, ber-refleksi, meninjau kembali diri sendiri, mengevaluasi diri. Misalnya mengenal perasaan, sifat, kecenderungan, pelampiasan-pelampiasan akibat konflik dalam diri, penyangkalan-penyangkalan, “mau tampak baik”, ketidakjujuran, dll. Mikrokosmos juga bertujuan: Hidup...!!! Hidup Berkelimpahan-Energi Sepenuh-penuhnya. Hidup yang demikian dengan sendirinya menjelma menjadi:
watak yang selalu  syukur-gembira sedalam-dalamnya setinggi-tingginya.
Hanya watak mikrokosmos yang demikian mengubah struktur-struktur dan proses-proses  makrokosmos. Pada pikirannya, makrokosmos itu kembali ke watak itu untuk menumbuhkannya.

Watak itu terjadi antara lain dengan memahami dan menjalani:
1. Luka Batin (Matras)--Paul Vereshack.
   http://www.paulvereshack.com, (khususnya bab 23)
2. Awareness--Anthony de Mello, S.J.
   http://www.demello.org
3. Latihan Rohani Ignasian.
4. Maarif Kitab Kearifan--Bahauddin Walad.
5. Emotional dan Spiritual Quotient .
6. Delapan Kebiasaan Efektif--Stephen R. Covey.
7. Motivasi Kunci.

Comments

Popular posts from this blog

?SUDUT PANDANG? (LAMA)